Talkshow Radio “Sanitasi di Kota Depok”

Talkshow Radio “Sanitasi di Kota Depok”

 

Selasa, 11 Desember 2012 Diskominfo Kota Depok memfasilitasi layanan siaran melalui media elektronik kepada Bappeda Kota Depok di radio Pop 103 FM dengan narasumber Kabid Fisik dan Perencanaan Prasarana, Ir. Karnia Parwanti, M.Si dan Kasie Infrastuktur Herniwati, ST, MT dipandu oleh penyiar Pop FM Firman Fauzan.

Penyakit yang ditimbulkan oleh kurangnya pemeliharaan sanitasi jauh lebih besar biayanya daripada pencegahan penyakitnya. Sebanyak 12% warga Depok disinyalir belum memiliki septic tank. Syarat septic tank yang baik adalah harus yang KEDAP sehingga bakteri yang terkandung dalam limbah tinja tidak meresap ke air tanah (virus e-coli). Oleh karena itu penyedotan septic tank juga harus dilakukan secara rutin, minimal 3 tahun sekali. Jika warga berkata bahwa kapasitas septic tanknya belum penuh, perlu diwaspadai bahwa septic tanknya bocor atau meresap ke tanah.

Kedua, hal yang perlu diwaspadai juga adalah munculnya TPS liar. Hal ini merupakan problem yang dihadapi pemerintah kota Depok. Untuk mencegah timbulnya TPS liar ini secara preventif dilakukan pemilahan sampah dari mulai hulu (rumah tangga) hingga ke hilir, dalam bentuk bank sampah, pemilahan, dan nantinya residunya menjadi kompos. Untuk itu sangat diperlukan pemberdayaan masyarakat.

Ketiga, pembakaran sampah harus dihindari, karena sampah plastik mengandung karsinogenik yang jika dibakar, asapnya dapat menghidupkan sel-sel kanker.

Keempat, Program yang dilaksanakan adalah Pelaksanaan sanitasi berbasis masyarakat dengan menitikberatkan pada penyadaran masyarakat karena masyarakat dirasa belum timbul rasa butuhnya terhadap sanitasi yang prima.

Kelima, untuk warga yang tidak punya jamban, Kementerian Lingkungan Hidup sudah mengalokasikan dana jamban gratis. Sedangkan dari APBD Kota Depok sendiri memfokuskan pada masyarakat kurang mampu sebanyak 4,5%.

Keenam, yang perlu diingat juga adalah bila kualitas sungai Ciliwung sangat buruk, maka biaya pengolahan air bersihnya menjadi sangat tinggi.

Ketujuh, untuk warga yang masih memiliki bayi dan balita, diharapkan tinja yang ada di pampers dibuang di toilet / WC agar tidak mencemari lingkungan.

four × 3 =

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × two =